PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Sekibar Sekabar


’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!

Selengkapnya baca: DI SINI!

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)

20 November 2009

Tentang Sungai, Hutan, dan Malam

1. Sungai

AKU kira sungai itu letih juga. Mengalirkan
diri sendiri. Aku kira sungai itu sedang
berpikir untuk membeku atau mengering saja.

Dari muara tadi, kuhitung berapa lekuk yang
patah, berapa teluk yang patuh. Dan hujan
yang mengeluh, aku pura-pura tak mendengar,
ia sebut ramalan tentang musim bah, musibah.


2. Hutan

HUTAN adalah dada yang tabah. Aku kira dulu
selalu begitu. Sampai aku temukan bercak
darah, terperah dari luka yang perih parah.

Ingin sekali aku bisa mengambil juga luka
itu untukku sendiri, sekadar sakit, sedikit.
Aku kira, tabah di dadaku, perlu juga kuuji.


3. Malam

AKU kira semua lagu ditulis dan dinyanyikan
untuk malam, yaitu saat segalanya dibicarakan
dengan perlahan dan kita tak buru-buru hendak
membuat kesimpulan. Kerap kali, kita justru
menyisakan beberapa pertanyaan, terbiarkan.

Apakah kau suka memperhatikan yang dibicarakan
oleh burung-burung dan serangga malam itu?
Mereka saling mengingatkan tentang apa-apa
yang harus lekas dilupakan. Kau perhatikan?



Terus Telusur...

[FIKSIMINI] Badutelevisi

"APAKAH aku sudah tidak bisa membantu kelucuanmu lagi?" tanya topeng badut itu kepada si badut yang selama ini selalu mengenakannya.

Si Badut memandangi televisi kecil di kamar kumuhnya. Televisi itu menyiarkan berita badut-badut tak bertopeng dan si Badut berpikir mungkin dia harus memakai televisi itu sebagai pengganti topengnya.

"Wah, ide yang lucu itu," kata topeng. Tapi, mereka berdua sama sekali tidak tertawa.




Terus Telusur...

16 November 2009

Oh Ya

Sajak Charles Bukowski

ada yang lebih buruk daripada
sepi sendiri
tapi seringkali perlu berdekade
untuk menyadari ini
dan lebih sering lagi
ketika engkau menyadari
sudah sangat terlambat
dan tak ada yang lebih buruk
daripada
terlambat yang sangat.




Terus Telusur...

Burung Biru

Sajak Charles Bukowski

ada burung biru di hatiku
yang ingin keluar dari situ
tapi aku amat ketat mengurungnya,
Aku bilang, di situ saja, aku
tak akan membiarkan ada yang melihat
kau diam di situ.


Terus Telusur...

Saat Sajak-sajak

Sajak Charles Bukowski

saat sajak-sajak berbanyak seribu biak
engkau sendiri menyadari betapa secuma
yang telah engkau cipta

:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani


Terus Telusur...

Tantangan Kegelapan

Sajak Charles Bukowski

pandang apa yang tak terduga
sangka apa yang tak terkira
sepak apa yang tak tertebak

apakah apa yang bagai tari sebunga bunga

:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani


Terus Telusur...

Sendiri Bersama Semua Orang

Sajak Charles Bukowski (1920 - 1994)

daging memagut tulang
dan mereka letak padanya benak
dan kadang juga jiwa,
dan vas bunga
dihancurkan perempuan
dibentur ke dada dinding
dan lelaki menenggak mabuk
dan tak ada yang mendapatkan
apa-apa
tapi terus saja mereka
mencari
keluar masuk merangkaki
ranjang.
daging membalut
tulang dan daging mencari
apa yang lebih daging
daripada daging.

tak ada peluang
sama sekali tak ada
kita terperangkap
dalam takdir
yang sama
saja.

tak ada seseorang yang
bisa menyeorangkan
seseorang.

tempat pembuangan sampah penuh
lapangan barang rongsokan penuh
barak orang gila penuh
lorong rumah sakit penuh
taman kuburan penuh

tak ada lagi sisa
sesak saja
segala.


:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani Terus Telusur...

15 November 2009

Di atas kertas kata-kata bercumbu, seperti lalat di hangat musim panas dan penyair cuma penonton yang dirudung bingung - Dusan "Charles" Simic, Penyair Serbia-Amerika.


Terus Telusur...

World Premiere "Bibirku Bersujud di Bibirmu"

"Bibirku Bersujud di Bibirmu" will receive its world premiere at the Jakarta New Year concert, January 3rd 2010, by Inez Raharjo -violin, Elizabeth Ashford -alto flute, Aning Katamsi -soprano and myself on the piano.

Selengkapnya baca di sini


Terus Telusur...

13 November 2009

[Ruang Renung # 244] Lima Tahun Membisu

PADA umur tujuh tahun, dia diperkosa oleh teman pria ibunya. Lelaki itu kemudian mati dibunuh oleh pamannya, bukan karena perkosaan itu, tapi karena perbuatan bermuatan pidana lainnya.

Bagaimana pun dia merasa bersalah atau pembunuhan itu. Sejak itu dia tak mau bercakap Dengan siapapun. Dia membisu. Lima tahun lamanya. Dia tidak bicara, dan tenggelam dalam bacaan dan kelak dia akui pada masa-masa inilah dia mendapatkan kemampuan berbahasanya . Dia jatuh cinta (dan mungkin dengan begitu bisa bertahan hidup waras) pada buku-buku sastra.

Dia membaca Langston Hughes, W. E. B. Du Bois, dan Paul Lawrence Dunbar. Dia sibukkan dirinay dengan William Shakespeare, Charles Dickens, dan Edgar Allan Poe.

Dia kelak baru berbicara setelah gurunya Nn. Flowers dengan telaten dan tabah membuka hati, mata dan menggerakkan lidahnya. Menggerakkan kehidupannya.

Dia Maya Angelou namanya. Penyair wanita Amerika yang kerap hadir di acara-acara resmi dan penting, dan berkali-kali sudah disebut akan dapat Nobel Sastra. Dia membaca sajak "On The Pulse of the Morning" atas permintaan Bill Clinton saat dilantik sebagai presiden. Saat upacara resmi penyemayaman Michael Jackson, dia juga yang tampil membaca puisi.


Terus Telusur...

Sepetik Sajak

Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta

:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.


---

Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu


:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu
- Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.


---

Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri

menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.

:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

Mana Suka Siaran Niaga